Sebagian orang percaya akan adanya happy ending dan perfect life, itu merupakan hak setiap orang untuk percaya terhadap hal seperti itu. Happy ending maupun perfect life dapat dicapai dengan indicator yang berbeda untuk masing-masing orang, namun apakah setiap orang selalu merasakan hal cukup jika sudah mencapai indicator mereka memasuki “kehidupan sempurna” mereka?

Happy ending doesn’t exist because we all start our lives not in a fairytale, we live in a real life. Begitu pula dengan perfect life, kehidupan yang sempurna itu tidak akan pernah ada karena manusia tidak akan pernah puas akan semua yang dimilikinya. Jika ada orang yang merasa puas akan yang sudah dimilikinya, itu hampir mustahil karena sifat manusia yang serakah.

Sebenarnya mungkin sebagian besar dari kita sudah hidup cukup, bahkan lebih dari cukup. Namun karena kita terus membandingkan dengan orang lain, kita merasa kehidupan kita akan selalu kurang. Rumput tetangga SELALU lebih hijau daripada rumput sendiri.  Mencobalah untuk bersyukur atas apa yang anda punya jika ingin hidup senang, jika ingin hidup susah teruslah membandingkan dengan orang lain.

Morale of the story kali ini adalah: Happy ending doesn’t exist, because we don’t live in a fairytale. Terlebih yang ada di dunia ini adalah happy journey. Perfect life doesn’t exist too, kecuali anda mensyukuri apa yang telah anda miliki dan tidak membandingkannya dengan milik orang lain.

 

Cheers.

Advertisements